Kumbanews.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku tidak puas dengan hasil negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, ia menegaskan belum mengambil keputusan final terkait kemungkinan aksi militer terhadap Teheran.
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah perwakilan kedua negara menggelar pembicaraan di Jenewa. Trump menilai Iran tidak menunjukkan sikap yang sesuai dengan harapan Washington dalam proses perundingan.
“Kami tidak begitu senang dengan cara mereka bernegosiasi. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Trump kepada wartawan, dikutip dari France 24, Sabtu (28/2/2026).
Trump sebelumnya memerintahkan pengerahan militer tambahan ke kawasan Timur Tengah. Kapal induk terbesar Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, dilaporkan bergerak mendekati perairan Israel sebagai bagian dari peningkatan tekanan terhadap Iran.
Namun saat ditanya soal kemungkinan serangan militer, Trump menyebut keputusan akhir belum dibuat. Ia juga mengakui belum tentu langkah militer akan menjatuhkan pemerintahan Iran.
“Tidak ada yang tahu,” katanya singkat.
Trump kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap program nuklir Iran. Ia menolak segala bentuk pengayaan uranium, termasuk untuk kepentingan sipil.
“Saya katakan tidak ada pengayaan. Bukan 20 persen, 30 persen. Saya pikir itu tidak beradab,” tegasnya.
Di sisi lain, Iran berulang kali membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Teheran sebelumnya menyepakati pembatasan pengayaan uranium dalam kesepakatan nuklir 2015, yang kemudian dibatalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.
Situasi keamanan yang memanas juga berdampak pada kebijakan diplomatik. Kedutaan Besar AS mengizinkan staf non-darurat dan keluarga mereka meninggalkan Israel. Warga Amerika diminta mempertimbangkan keluar dari wilayah tersebut selagi penerbangan komersial masih tersedia. Sejumlah negara Eropa turut mengeluarkan peringatan perjalanan.
Ketegangan terbaru ini kembali memicu kekhawatiran dunia atas potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.





