Kumbanews.com – Media sosial diramaikan unggahan Dwi Sasetyaningtyas, alumni Institut Teknologi Bandung sekaligus penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), terkait status kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi warga negara Inggris.
Dalam video yang beredar, Dwi terlihat membuka paket dari Home Office Inggris berisi surat resmi dan paspor Inggris untuk sang anak. Pada salah satu unggahannya, ia menulis, “Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA.”
Konten tersebut memantik pro dan kontra. Sejumlah warganet mempertanyakan komitmen kebangsaan penerima beasiswa negara, sementara lainnya menilai status kewarganegaraan anak merupakan ranah pribadi.
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, turut menyoroti polemik ini. Ia menyebut ada pelajaran penting dari peristiwa tersebut, terutama dalam penggunaan media sosial.
“Kadang kebahagiaan cukup disimpan, tidak semua harus diunggah,” ujarnya melalui akun media sosialnya, Minggu (22/2/2026).
Pendiri lembaga survei Kedai KOPI itu juga menyinggung aspek seleksi beasiswa negara agar tidak semata bertumpu pada capaian akademik.
Ia bahkan membuat jajak pendapat terkait perlu tidaknya penerima LPDP mengembalikan dana pendidikan. Hasilnya, mayoritas responden menyatakan dana tersebut sebaiknya dikembalikan.
Perdebatan pun meluas, menyentuh isu etika penerima beasiswa, nasionalisme, hingga batas antara pilihan pribadi dan tanggung jawab publik.





